Rabu, 06 Agustus 2014

Lima Gejolak Kelas Menengah di Dunia Otomotif

// // Leave a Comment
Jakarta, KompasOtomotif - Ada yang menarik dalam gelaran Otomotif Awards 2014 yang berlangsung di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (27/3/2014). Yakni, presentasi dari Yuswohady, pakar, penggiat, sekaligus penulis Ilmu Pemasaran yang menjelaskan karakteristik konsumen kelas menengah yang lagi tumbuh pesat di Indonesia.

Pria berkacamata ini menjelaskan, tercatat ada 140 juta jiwa warga kelas menengah yang hidup di Indonesia dengan rata-rata pengeluaran Rp 20.000 - Rp 2 juta per hari. Jumlah ini dihitung dari rata-rata pendapatan domestik bruto (GDP) Indonesia yang sudah menembus 3.000 dollar Amerika Serikat per tahun.

"Mau tahu seberapa besar pengaruhnya kelas menengah dalam kehidupan manusia di Indonesia? Caranya sangat mudah," kata Yuswohady.

Contohnya, pertama, semakin padatnya jumlah pengunjung di seluruh bandara di Indonesia. Di Soekarno Hatta saja, kemampuan daya tampung bandara internasional terbesar Indonesia hanya mencapai 15 juta orang, tetapi pada 2012 tercatat 50 juta orang yang datang ke bandara.

Kedua, kepemilikan sepeda motor sudah semakin marak. Konsumsi satu rumah tangga terhadap sepeda motor sudah melebihi dua unit. Bahkan, setiap anggota keluarga sekarang beli motor untuk sarana transportasi menjadi kendaraan ke tiga dan empat. "Keempat, ibadah umroh. Dulu tidak semua orang bisa pergi umroh, tapi sekarang antreannya menumpuk. Bahkan, di Surabaya orang harus antre haji sampai 13 tahun," beber Yuswohady.

Fenomena tearkhir yang paling mudah terlihat di Indonesia, adalah maraknya artis-artis internasional datang menggelar pertunjukkan di sini. "Pekan ini ada Bruno Mars, nanti menyusul Taylor Swift, terus saja berdatangan dan animonya sangat besar di Indonesia," beber Yuswohady.

Otomotif
Lantas, apa pengaruhnya kelas menengah yang dikategorikan punya sepertiga dari penghasilannya masuk dalam pendapatan "menganggur" pada dunia otomotif?

Gejala pertama yang terjadi adalah, beralihnya status barang-barang mewah yang semula sedikit peredarannya menjadi "luxury mass product". Barang mewah yang sudah massal jumlahnya. Pembelian mobil dengan kredit menjadi hal yang pasti dilakukan warga kelas menengah.

"Kedua, punya satu mobil tidak cukup. Memiliki mobil sudah menjadi tren, jadi banyak rumah yang punya satu garasi tapi mobilnya dua, sehingga mereka pilih parkir di jalan. BPKB yang sudah ada "disekolahkan" lagi untuk mendapat mobil kedua dan seterusnya," lanjut Yuswohady.

Ketiga, usia kepemilikan satu mobil (lifecycle) menjadi lebih singkat dari semula 5 tahun menjadi tinggal 1 tahun saja. Warga kelas menengah membeli mobil tidak lagi melihat soal awet atau harga purna jual yang tinggi, tetapi lebih kepada desain atau gaya kendaraan itu.

Keempat, dari seluruh konsumsi mobil yang marak ini, permintaan akan mobil bekas juga akan semakin tinggi, bahkan meledak. "Karakter orang lebih mudah bosan, dengan menambah sedikit uang, mereka mau punya mobil baru. Mobkas, jadi alternatif pilihan utama," tukas Yuswohady.

Terakhir, kebutuhan pramuniaga semakin ditangguhkan. Pasalnya, warga kelas menengah sudah punya akses informasi, intelektualitas, dan kritisi lebih baik dari sebelumnya. Terbukanya informasi via internet membuat calon konsumen lebih teredukasi pada produk baru.

0 komentar:

Poskan Komentar